Ini Kata Kemenag Jika tidak Perhatikan Dunia Pondok Pesantren!

buchori
buchori 2 mnt baca
JAKARTA  --- Pesantren merupakan sistem pendidikan yang lahir dari tradisi masyarakat Indonesia sendiri. Karena itu, negara memiliki tanggung jawab untuk memastikan keberlanjutan dan pengembangannya. Hal ini disampaikan Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama, Amien Suyitno, dalam Takjil Pesantren: Talkshow dan Ngaji Bareng Santri di Pesantren Al-Karimiyah, Depok, Senin (16/3/2026). Menurutnya, karakter pendidikan pesantren berbeda dengan sistem pendidikan formal modern karena menekankan pembinaan menyeluruh melalui kehidupan berasrama. “Pesantren adalah produk asli pendidikan Indonesia. Jika negara tidak memberi perhatian serius, maka kita sama saja mengabaikan sejarah pendidikan bangsa,” ujar Suyitno. Takjil Ramadan dihadiri Wali Kota Depok, Supian Suri. Dia menilai pesantren memiliki peran strategis dalam menjaga fondasi moral masyarakat. Menurutnya, lembaga pendidikan berbasis asrama tersebut telah lama menjadi ruang pembentukan akhlak dan karakter generasi muda. Ia menegaskan pemerintah daerah akan terus memperkuat dukungan terhadap keberadaan pesantren dan lembaga pendidikan keagamaan yang telah berkontribusi sejak jauh sebelum Indonesia merdeka. “Pesantren berperan besar dalam membina akhlak santri sekaligus menjaga nilai moral di tengah masyarakat. Pemerintah Kota Depok berkomitmen untuk terus hadir mendukung pengembangannya,” kata Supian. Ia juga mengungkapkan kedekatan pribadinya dengan dunia pesantren karena pernah menempuh pendidikan sebagai santri. Pengalaman tersebut, menurutnya, menjadi bekal penting dalam perjalanan hidupnya. Ia menjelaskan bahwa pola pendidikan pesantren memungkinkan proses pembinaan berlangsung sepanjang waktu, tidak hanya melalui pengajaran ilmu pengetahuan tetapi juga melalui pembentukan karakter dan spiritualitas santri. Direktur Pesantren Kementerian Agama, Basnang Said, menambahkan program Takjil Pesantren dirancang sebagai ruang dialog antara pemerintah dan komunitas pesantren di berbagai daerah. Menurutnya, kegiatan tersebut bukan sekadar agenda seremonial, melainkan upaya memperkuat komunikasi sekaligus menyerap aspirasi dari kalangan pesantren. “Program ini menjadi cara Kementerian Agama menyapa langsung para santri sekaligus memperkuat hubungan antara pemerintah dan pesantren,” jelasnya. Pengasuh Pondok Pesantren Al-Karimiyah, KH Ahmad Damanhuri, dalam kesempatan yang sama menceritakan perjalanan pesantren yang dipimpinnya. Ia menyebut Al-Karimiyah berawal dari kegiatan pendidikan sederhana yang dilaksanakan di serambi masjid. Seiring waktu, lembaga tersebut berkembang menjadi pusat pendidikan yang menaungi berbagai jenjang pendidikan, mulai dari pendidikan anak usia dini hingga perguruan tinggi. Menurut Damanhuri, perkembangan tersebut lahir dari komitmen pesantren untuk terus memberi manfaat bagi masyarakat sekaligus menyebarkan nilai Islam yang moderat dan inklusif. “Kami memulai dari kondisi sangat sederhana. Namun dengan semangat memberi manfaat bagi umat, pesantren ini terus berkembang menjadi lem